Rabu, 20 Juli 2016

Adab-Adab Menuntuu Ilmu


Bismillah.
Segala puji hanya diperuntukkan bagi Allah 'Azza wa Jalla yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
"Seseorang dinilai dari rupa dan pakaiannya saat ia terdiam. Ia akan dinilai dari keilmuannya saat ia berbicara." (Hamzah Patongai, 2015)
Ilmu adalah sesuatu yang mulia yang dapat mengangkat derajat seseorang menjadi mulia pula. Berikut ini beberapa poin tentang keutamaan ilmu dan orang yang mempelajari ilmu sebagaimana yang saya sari dari buku seorang ulama Ahlus Sunnah Ibnu Abdil Barr berjudul Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi.
---
Keutamaan Banyak berdiam
Penulis berkata, “Dan diam benar-benar untuk dirimu sangat menghiasimu sebagai perhiasan bagimu jika kamu tidak mempunyai ilmu yang meyakinkanmu.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaknya dia berucap hal yang baik atau dia diam.”[1]
Imam Syafi'i rahimahullah berkata, “Orang yang cerdas lagi berakal itu cepat memahami tapi dia selalu merasa cuek[2].”


[1] HR. Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
[2] Cuek terhadap hal yang tidak perlu dia ketahui dan bukan menjadi urusannya

Berhati-hati dengan merasa bangga dengan diri sendiri
Penulis berkata, “Hati-hati kamu dari al-ajab[1].”
Orang yang merasa bangga dengan diri sendiri, terkadang dia merasa paling benar dan yang lainnya dianggap kecil, orang benar pun dia salahkan, orang yang menegur dia dengan kebaikan terkadang dianggap mencela dan mencercanya.
Jawaban yang berakhir dengan penyesalan
Penulis berkata, “Betapa banyak sebuah jawaban yang setelahnya diikuti dengan penyesalan karena itulah ambillah kemenangan dengan banyak berdiam disertai dengan keselamatan.”
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Orang yang memberi fatwa kepada manusia kepada segala fatwa yang ditanyakan padanya adalah orang gila.”
Terkadang ada pertanyaan yang bisa dijawab, ada pula yang tidak mesti dijawab, ada juga pertanyaan yang dijawab secara pibadi. Seorang mufti harus mengetahui hal ini begitu pula dengan seorang penanya harus mengetahui hal ini.


[1] Merasa bangga dengan diri sendiri
Ilmu itu ibarat lautan
Penulis berkata, “Ilmu itu ibarat lautan yang dasarnya sangat jauh. Tidak ada batasan untuk dasarnya sehingga seorang bisa sampai ke sana. Tidak setiap ilmu itu bisa kamu dapatkan. Jangankan seluruh ilmu, sepersepuluhnya saja belum tentu kamu dapatkan walaupun kamu berusaha untuk mendetailkannya.”
Kalau ilmu itu luas dan sulit didapatkan semuanya, maka bagaimana pula orang yang keliru dengan menuntut ilmu, banyak menyibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat, lalai di dalam menuntut ilmu, dan tidak fokus dalam menuntut ilmu.
Seorang penyair berkata, “Ilmu itu tidak bisa didapatkan seluruhnya oleh satu orang. Tidak akan mungkin dia dapatkan walaupun dia belajar seribu tahun. Ilmu itu bagaikan lautan yang sangat luas. Karena itu ambillah dari setiap ilmu yang paling baiknya[1].”


[1] Maksudnya ambillah ilmu dari intinya yaitu pokok-pokok ilmu, yaitu bisa dengan menuntut ilmu kepada guru untuk mendapatkan pokok-pokok dari ilmu
Penulis berkata, “Dan apa yang tersisa dari ilmu yang belum kamu dapatkan itu lebih banyak dari apa yang telah kamu ketahui.”
Penulis ingin mengingatkan bahwa walaupun kita memiliki ilmu, kejahilan kita lebih banyak lagi.
Penulis berkata, “Dan engkau kalau mendengar sesuatu maka tanyalah dengan bentuk pertanyaan[1].”
Penulis berkata, “Ucapan guru itu ada dua, ada ucapan dari guru yang bisa kamu pahami dan ada ucapan dari guru yang kamu dengarkan tapi kamu tidak mengerti maknanya.”
Penulis berkata, “Setiap ucapan itu ada jawabannya. Dan setiap jawaban mengandung kebatilan dan kebenaran[2].”
Penulis berkata, “Ucapan itu ada awal dan ada akhirnya. Maka pahamilah keduanya dan selalu hadirkan pemahamanmu. Dan janganlah kamu tolak sebuah ucapan sampai ucapan itu selesai kepada berikutnya.”
Penulis berkata, “Kadang orang-orang yang memiliki keutamaan (seorang alim/ulama) tapi dia tidak mampu menjawabya maka dia diam untuk menjawab, dan kadang dia diam ketika ada keraguan dalam masalah tersebut.”
Penulis berkata, “Andaikata dalam saat ragu dikiaskan itu ibarat perak putih tapi kalau diam itu terhitung dari emas yang paling baik.”
Penulis berkata, “Pahamilah – semoga Allah memberi hidayah kepadamu – adab-adab dalam menuntut ilmu.”


[1] Bukan dengan pertanyaan seolah-olah ingin mendebat guru
[2] Jawaban yang dimaksud adalah jawaban yang dibangun atas istinbath. Sementara jawaban yang dibangun atas dalil (Al-Quran dan As-Sunnah)maka dalil tersebut tidak ada yang keliru, yang keliru terkadang adalah menyimpulkan dari dalil tersebut
---45
Subhanallah.
Mari semangat dalam menuntut ilmu. Sebagaimana yang diucap oleh Yahya bin Abi Katsir,

"Ilmu itu tidaklah didapatkan dengan jasad yang santai."

Semoga kita mendapatkan kemuliaan atas ilmu yang kita pelajari. Semoga kita menjadi seseorang yang senantiasa beramal dengan ilmu yang kita miliki. Semoga Allah memudahkan langkah kaki kita untuk menuntut ilmu dan dimudahkan langkah hati kita untuk memahaminya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan jujur dan santun.
Syukran.
Barakallahu fiikum