Minggu, 22 Mei 2016

Mendahulukan Allah dari Segala yang Dicintai

Bismillah.

Dalam sebuah hadits, dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, Anas berkata,

“Tatkala Saya dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar dari masjid, Kami menjumpai seorang lelaki di gerbang masjid. Lelaki tersebut pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kapankah hari kebangkitan?’.” Beliau bertanya, “Apa persiapanmu menghadapi hari kiamat itu?” Lelaki itu seakan merasa bersedih, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, Saya tidak punya persiapan suatu yang besar dari shalat, puasa, dan sedekah, tetapi Saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menjawab, “Engkau akan dikumpulkan bersama siapa saja yang engkau cintai.”


Ketika hadits ini didengar oleh Anas bin Malik lalu didengar oleh para shahabat, mereka pun sangat bergembira. Hingga, Anas bin Malik bertutur,
“Maka Saya pun mencintai Allah, dan (mencintai) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Abu Bakr, dan Umar, juga Saya berharap agar dikumpulkan bersama mereka, walaupun Saya tidak beramal seperti amalan mereka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Hadits yang agung ini mengandung sebuah pembahasan penting dalam kehidupan: di antara sumber kebahagian seorang hamba adalah mahabbatullah, kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh-Nya.

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah bagian dari kecintaan kepada Allah.

Mencintai agama yang Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan merupakan bagian dari kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Inilah di antara pokok keimanan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala terangkan dalam Al- Qur`an,
“Dan di antara manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintai (tandingan-tandingan) itu sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amatlah dalam cintanya kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]

Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa kecintaan kaum musyrikin: mencintai siapa saja yang mereka ibadahi selain Allah. Adapun orang yang beriman, Allah menerangkan bahwa kecintaan mereka yang paling besar adalah kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam diperintah oleh Allah untuk menyampaikan sebab sehingga seseorang mendapatkan kecintaan Allah dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

“Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Âli-Imrân: 31]

Mahabbatullah. Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah salah satu pokok kebaikan dan sebaik-baik amalan yang umur kita dimanfaatkan guna mencari pokok kebaikan tersebut. Sebab, siapa saja yang cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencintainya. Siapa saja yang beramal dengan syariat-Nya Subhanahu wa Ta'ala niscaya akan dicintai Allah. Selanjutnya, apabila seseorang telah dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tiada sesuatu apapun yang perlu dia khawatirkan.

Tatkala, pada dirinya, telah ada sifat yang agung ini, yakni lebih mencintai segala hal yang Allah cintai, lebih mendahulukan perkara-perkara yang Allah cintai, dia pun akan merasakan kelezatan iman. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

“Ada tiga (perkara) yang, siapa saja yang ketiga perkara ini ada pada dirinya, dia akan meraasakan kelezatan iman: (1) menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang paling dia cintai melebihi (kecintaan kepada) selain keduanya, ….”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda,
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga menjadikan Saya lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Namun, hal ini memerlukan perjuangan dan pembiasaan. Seseorang harus senantiasa menghayati ayat-ayat Al-Qur`an, hadits-hadits Rasulullah, mengenal keagungan dan kebesaran Allah, serta selalu mengingat akhir dari kehidupan dunia ini bahwa ada kematian yang akan menjemputnya. Pun selalu ia mengetahui bahwa ada kehidupan kekal abadi di akhirat, bahwa dia akan berada di surga atau di neraka-Nya sehingga dia lebih mendahulukan kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta;ala daripada selain-Nya.

(Disadur dari Buku Saku Sebab-Sebab Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang ditulis oleh Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi -hafizhahullah, semoga Allah senantiasa menjaga beliau-)

---

Sungguh indah perkataan seorang hamba -hafizhahallah-,

"Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Mengetahui kepada siapa yang ingin Ia beri nikmat. Cinta-Nya tidak ada yang mengalahkan. Cinta kepada hamba yang Mencintai-Nya dari apapun.  Maka jangan mencintai siapapun melebihi cinta kita kepada yang menciptakan Cinta. Mari cintai Allah Subhanahu wa ta'ala dengan mengerjakan kebajikan dalam kehidupan yang tak kekal ini. Agar Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai kita. Semoga kita selalu berada dalam keistiqhomahan Islam. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan jujur dan santun.
Syukran.
Barakallahu fiikum