Adalah sebuah kebahagiaan dan kegembiraan bagi kaum muslimin di seluruh dunia untuk menyambut datangnya tamu yang istimewa. Ialah bulan yang agung, bulan Ramadhan dengan segala keutamaan yang dimilikinya.
Khusus bagi kaum muslimin di bumi pertiwi, beberapa menit yang lalu, baru saja penentuan hari masuknya 1 Ramadhan ditetapkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai pihak dari pemerintah yang berwenang untuk menetapkan hal tersebut. Berdasarkan hasil sidang isbat tersebut 1 Ramadhan 1436 H bertepatan dengan Hari Kamis, 18 Juni 2015. Insya Allah.
Mengingat penentuan masuknya Ramadhan adalah perkara yang penting bagi kebersamaan kaum muslimin, maka Pengeja mencoba menuliskan referensi yang semoga dapat menjadi pijakan kita dalam hal tersebut. Berikut ini ringkasan khutbah Jum'at yang dibawakan oleh Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di Masjid As-Sunnah pada tanggal 18 Sya'ban 1436/5 Juni 2015 yang Pengeja ringkas dalam bahasa tulisan tanpa mengurangi maksud dari khutbah tersebut. Khutbah tersebut bisa didownload, klik di sini.
----------
.....
Ma’asyiral muslimin Jama’ah Jum'at rahimani wa rahimakumullah.
Salah satu ciri pokok di dalam agama ini dan dasar penting yang dengannya Islam itu tegak adalah persatuan kalimat dan menjaga kebersamaan serta menjauhi segala bentuk perpecahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah dan jangan kalian bercerai-berai."
(Al-Qura`nul Karim)
(Al-Qura`nul Karim)
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan bahwa syari'at para nabi dan para rasul adalah untuk hal itu,
"Telah Allah syariatkan untuk kalian dari agama itu apa yang Kami wasiatkan kepada Nabi Nuh dan apa yang kami wahyukan kepada engkau (wahai Muhammad), serta apa yang Allah wasiatkan kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Hendaknya kalian menegakkan agama dan jangan kalian bercerai-berai di dalamnya."
(Al-Qura`nul Karim)
(Al-Qura`nul Karim)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan bahwa perpecahan bukanlah akhlak umat Islam. Itu adalah akhlak orang-orang jahiliyah. Allah berfirman,
"Jangan kalian seperti kaum musyrikin dari orang-orang yang memecah belah agamanya, sehingga mereka berkelompok-kelompok. Setiap kelompok merasa bangga dengan golongannya."
(Al-Qura`nul Karim)
Allah Subhanahu wa Ta'ala mensucikan nabinya dari perbuatan yang jelek ini. Allah berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka berkelompok-kelompok, engkau (ya Nabi Muhammad) tidak terhitung dari mereka sama sekali."
(Al-Qura`nul Karim)
Karena itu, dari pokok agama ini adalah terjaganya umat Islam dan kaum muslimin di atas kebersamaan dan kesatuan serta menghindarkan mereka dari segala makna perpecahan. Hal ini mewarnai segala bentuk syariat kita. Karena itu, kita melihat syariat shalat berjama'ah. Bagaimana shalat tersebut dituntunkan untuk dipimpin oleh seorang imam. Tidak boleh ada yang menyelisihi dari gerakan imam. Di mana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah menegaskan,
"Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti."
(Al-Hadits)
Ketika imam bertakbiratul ihram, maka diikuti oleh seluruh makmum, sebagaimana makmum tidak berhenti dari shalatnya ketika mereka mengikuti imam yang telah salam. Maka dijaga kebersamaan dan kesatuan di dalam shalat. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam - di dalam shalat - tidak mencintai orang yang men-jahr-kan (mengeraskan) bacaannya, sementara imamnya sedang membaca. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah mengingatkan,
"Ketahuilah bahwa semua dari kalian bermunajat kepada Robbnya. Maka jangan sekali-sekali sebagian dari kalian men-jahr-kan bacaannya terhadap sebagian yang lainnya."
(Al-Hadits)
Demikian pula telah disyariatkan shalat Jum'at secara berjama'ah. Jum'at itu ditegakkan sebagai shalat berjama'ah didahului dengan khutbah, kemudian dipimpin oleh seorang imam yang memimpin manusia di dalam menjalankan shalat. Tidaklah shalat dimulai kecuali setelah adanya khutbah. Dan tidaklah kaum muslimin diberikan keringanan shalat dua rakaat kecuali bersama imamnya secara berjamaah di hari Jum'at. Maka kebersamaan ini adalah untuk menjaga kebaikan mereka sendiri, untuk menjaga kemaslahatan agama mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diserukan untuk shalat di hari Jum'at, maka bersegeralah kalian mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Apabila shalat (Jum'at) telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah dan banyaklah kalian berdzikir kepada Allah supaya kalian menjadi orang yang beruntung."
(Al-Qura`nul Karim)
Ini adalah pokok dari syariat kebersamaan. Dan dari syariat kebersamaan juga, kita diperintah untuk shalat 'Id secara berjamaah. Shalat 'Id itu dilakukan secara bersama oleh kaum muslimin di tempat tinggal mereka, di negeri mereka masing-masing. Ini adalah ketentuan di dalam agama, sebagaimana masuknya bulan Ramadhan adalah dilakukan secara bersama, puasa yang dilakukan oleh seluruh dari umat. Sebagaimana mereka keluar dari Ramadhan, mereka memasuki hari 'Id adalah dengan kebersamaan pula. Juga di hari 'Idul Adha, ketika berkurban, dibangun di atas kebersamaan. Di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
"Puasa itu adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Dan berbuka itu adalah hari di mana kalian semua berbuka. Dan 'Idul Adha itu adalah hari di mana kalian semua telah melakukan 'Idul Adha.”
(Al-Hadits)
Perhatikan syariat yang agung ini. Bagaimana pokok-pokok kebersamaan dijaga dan dipelihara oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menciptakan kebaikan di tengah manusia. Yang demikian adalah beberapa contoh dari penjagaan syariat terhadap kebersamaan. Dan masih banyak lagi dari lembaran-lembaran syariat kita yang menunjukkan akan hal tersebut.
Kaum muslimin jama'ah Jum'at rahimani wa rahimakumullah.
Terkait dengan kebersamaan di dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan yang sebentar lagi insya Allah Ta'ala akan menyapa kaum muslimin, yang akan disambut dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Tapi, kita menyaksikan bahwa pada banyak tahun kaum muslimin di negeri kita ini diusik ketenangan serta kebahagiaannya karena adanya perselisihan di dalam penentuan masuknya bulan. Ini adalah hal-hal yang harusnya tidak terjadi, kalau memang seorang hamba menyadari pokok kebersamaan dan misi kebersatuan yang ada di dalam agama kita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah memutuskan ketetapan yang pasti di dalam penentuan masuknya bulan adalah bersandar kepada Rukyat Hilal. Di dalam hadits yang mencapai jumlah yang mutawatir Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
"Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Apabila mendung terhadap kalian, maka sempurnakanlah jumlah dari bulan itu menjadi tiga puluh."
(Al-Hadits)
Di dalam riwayat yang lain,
"... Sempurnakanlah jumlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari."
(Al-Hadits)
Di dalam hadits yang mulia ini terdapat penegasan bahwa akhir dari bulan itu adalah 29 hari atau 30 hari. Hanya itu yang dikenal di dalam syariat kita. Karena itu, di dalam hadits yang lainnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya kita ini adalah umat yang tidak bisa menulis, tidak pula bisa menghitung. Bulan itu (kata Nabi) adalah begini, begini, dan begini." Beliau isyaratkan dengan kedua telapak tangannya 3 kali. Kemudian beliau tutup satu jemarinya di yang ketiga. Artinya bulan itu 10 ditambah 10 ditambah 9. Kemudian beliau berkata lagi, "Dan bulan itu begini dan begini dan begini." Beliau renggangkan seluruh jemarinya. Artinya bulan itu 10 ditambah 10 ditambah 10.
(Al-Hadits)
Jadi, bulan hanya ada 29 hari atau 30 hari. Itu yang dikenal di dalam agama kita. Itu yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa Sallam. Pada tanggal 29 dilihatlah hilal itu. Hilal di sini berdasarkan apa yang dilakukan oleh para sahabat dan disepakati oleh umat, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hazm rahimahullah di dalam Al-Muhallah. Tidak ada silang pendapat di dalam hal tersebut. Bahwa hilal itu sah ketika terlihat setelah matahari terbenam di tanggal 29. Bukan sebelum matahari terbenam. Kalau ada bulan yang kelihatan sebelum matahari terbenam, maka itu tidak dihitung sebagai hilal.
Hilal yang dimaksud adalah bulan sabit kecil yang muncul di tanggal 1 atau tanggal 2 dan tanggal 3. Dalam bahasa Arab itu disebut hilal. Tapi maksud pembahasan kita di sini adalah hilal awal bulan. Hilal ini terlihat kalau matahari sudah terbenam. Begitu matahari terbenam, selang beberapa menit setelahnya, kalau kelihatan hilal (bulan sabit kecil), maka itulah tanggal 1 Ramadhan maupun tanggal 1 di awal bulan yang lainnya. Sebab ini cara penentuan masuknya bulan di seluruh bulan Islam, bukan di Ramadhan saja. Hanya saja dikhususkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam penyebutan Ramadhan karena ada hukum yang sangat penting terkait dengan hal itu, terkait dengan masalah puasa, terkait dengan masalah berbuka.
Kalau hilal terlihat pada tanggal 29, maka dia berpuasa. Kalau tidak terlihat karena mendung atau karena memang tidak kelihatan atau karena alasan yang lainnya, maka Nabi memberi perintah agar bulannya digenapkan menjadi 30 hari. Kemudian setelah itu, setelah 30 hari, otomatis masuk tanggal 1. Inilah penentuan masuknya bulan di dalam ketentuan agama kita, di dalam syariat kita.
Adalah hal yang mudah seorang itu melihat hilal ketika matahari terbenam. Kalau tampak, maka alhamdulillah mereka berpuasa. Kalau tidak tampak, maka digenapkan menjadi 30 dan lusanya otomatis masuk tanggal 1. Ini adalah syariat yang mudah. Kalau kaum muslimin berada di atasnya maka akan terjadi kebersamaan, terjadi kebersatuan. Inilah syariat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa Sallam.
Kemudian di dalam syariat ini, di dalam penentuan masuknya Ramadhan itu semuanya didasarkan dengan rukyat hilal, dengan melihat bulan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Siapa di antara kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya dia berpuasa."
(Al-Qura`nul Karim)
Disebutkan ia menyaksikan, ada musyahadah, bukan dengan menghitungnya. Karena itu, ilmu hisab tidak dikenal di sini. Apalagi Rasulullah telah menyatakan kita ini umat yang ummiyah, tidak membaca dan menulis, tidak bisa kita menulis dan tidak pula kita bisa menghitungnya. Maksudnya terkait dengan masalah bulan. Tidak ada penulisan dan penghitungan dari hisab yang berjalan di tengah manusia.
(bersambung >>> klik di sini)
----------
Demikian penjelasan Al-Ustadz dalam khutbah beliau. Lanjutan khutbah sengaja Pengeja pisahkan pada artikel tersendiri.
Semoga bermanfaat untuk menambah khazanah keilmuan kita. Terlebih lagi seorang hamba harus memahami perkara yang terkait dengan agamanya. Dan kehadiran Ramadhan adalah sesuatu yang mestinya kita sambut dengan kegembiraan dengan mempelajari segala seluk beluk tentang Ramadhan, agar Ramadhan kita lebih berberkah, lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memanjangkan umur kita untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kesehatan, kekuatan, dan kelapangan kepada kita dalam beribadah di dalamnya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Aamiin ya Robbal 'aalamiin.
(bersambung >>> klik di sini)
----------
Demikian penjelasan Al-Ustadz dalam khutbah beliau. Lanjutan khutbah sengaja Pengeja pisahkan pada artikel tersendiri.
Semoga bermanfaat untuk menambah khazanah keilmuan kita. Terlebih lagi seorang hamba harus memahami perkara yang terkait dengan agamanya. Dan kehadiran Ramadhan adalah sesuatu yang mestinya kita sambut dengan kegembiraan dengan mempelajari segala seluk beluk tentang Ramadhan, agar Ramadhan kita lebih berberkah, lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memanjangkan umur kita untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kesehatan, kekuatan, dan kelapangan kepada kita dalam beribadah di dalamnya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Aamiin ya Robbal 'aalamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan jujur dan santun.
Syukran.
Barakallahu fiikum