.....
Penentuan bulan sudah diketahui, 29 hari atau 30 hari. Itulah di dalam agama kita. Karena itu siapa yang memakai cara hisab, memakai metodologi hisab di dalam menetapkan masuknya bulan, maka mereka telah melakukan berbagai pelanggaran.
Penentuan bulan sudah diketahui, 29 hari atau 30 hari. Itulah di dalam agama kita. Karena itu siapa yang memakai cara hisab, memakai metodologi hisab di dalam menetapkan masuknya bulan, maka mereka telah melakukan berbagai pelanggaran.
Pertama: Mereka telah menyelisihi Al-Qur`an dan Al-Hadits yang menjelaskan bahwa penentuan masuknya bulan dengan melihat hilal.
Kedua: Mereka telah menyelisihi metode Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, di mana Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam tidak pernah di dalam sepotong hadits pun memberikan ketentuan menggunakan ilmu hisab. Selalu beliau sandarkan dengan melihat hilal.
Ketiga: Mereka telah menyelisihi jalan para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, di mana para sahabat Rasululah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang dikenal dari mereka hanya ini, hanya melihat hilal, tidak ada hal yang lainnya.
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan di dalam Al-Qur`an,
"Barangsiapa yang durhaka kepada Rasul setelah tampak jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain dari jalan kaum mukminin (para sahabat), maka Kami akan membiarkan dia larut di dalam kesesatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam. Dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali."
(Al-Qur'anul Karim)
(Al-Qur'anul Karim)
Maka hendaknya seorang berhati-hati. Jangan sampai menyelisihi jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan jalan para sahabatnya.
Keempat: Menyelisihi kesepakatan para ulama. telah dinukil kesepakatan itu oleh Ibnu Abdil Barr dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan selainnya bahwa sepakat para ulama penentuan masuk dan keluarnya Ramadhan serta bulan yang lainnya itu hanya dengan rukyat hilal. Tidak dengan metode hisab.
(Al-Qur`anul Karim)
(Al-Qur`anul Karim)
(Al-Qur`anul Karim)
----------
Demikian penjelasan Al-Ustadz dalam khutbah beliau. Untuk melihat artikel sebelumnya bisa klik di sini.
Semoga bermanfaat untuk menambah khazanah keilmuan kita. Terlebih lagi seorang hamba harus memahami perkara yang terkait dengan agamanya. Dan kehadiran Ramadhan adalah sesuatu yang mestinya kita sambut dengan kegembiraan dengan mempelajari segala seluk beluk tentang Ramadhan, agar Ramadhan kita lebih berberkah, lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memanjangkan umur kita untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kesehatan, kekuatan, dan kelapangan kepada kita dalam beribadah di dalamnya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Aamiin ya Robbal 'aalamiin.
Kemudian dari hal yang hendak diingat di sini, di dalam pembahasan ini bahwa penentuan masuknya dan keluarnya bulan itu bukan wewenang setiap orang. Itu adalah hak dan wewenang pemerintah. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Sesungguhnya manusia itu sama-sama melihat hilal. Saya pun melihatnya. Maka saya kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apa yang saya lihat. Kemudian beliau berpuasa dan memerintah manusia untuk berpuasa.”
Perhatikan dari etika para sahabat. Ketika ada yang mengetahui hilal sudah terlihat, dia tidak berpuasa pada dirinya sendiri, apalagi mengajak orang lain untuk berpuasa. Tapi dia kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang merupakan pimpinan negara. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang berpuasa dan memerintah seluruh manusia untuk berpuasa.
Karena itu, dari kekeliruan yang fatal, belum lagi masuk Ramadhan, sudah ada yang pasang spanduk-spanduk. Dia tentukan tanggal 1 Ramadhan dengan metode hisabnya. Kemudian diajak manusia untuk hal tersebut. Apa haknya di dalam mengajak. Apa kedudukannya di dalam mengajak. Tidak ada hak untuknya dalam hal tersebut di dalam syariat. Dan ini dari hal yang membuat kekacauan dan membuat perselisihan di tengah umat. Karena itu, hal yang seperti ini itu adalah wewenang pemerintah dan tidak ada silang pendapat di dalam hal tersebut.
Al-Imam Ibnu Jama’ah rahimahullahu ta’ala dari ulama syafi’iyah ketika beliau menyebutkan dari wewenang pemimpin, di antara wewenangnya adalah mengurusi tentang masuknya puasa dan keluarnya puasa, mengurusi tentang haji. Itu disebut dari wewenang pemerintah. Sebab ini semuanya dari tempat-tempat yang merupakan pokok kebersatuan kaum muslimin dan kebersamaannya. Tidak boleh diganggu gugat dengan adanya orang-orang yang menetapkan di luar dari ketetapan pemerintah. Ini yang berjalan pada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, disepakati oleh para ulama, tidak ada silang pendapat di dalam hal tersebut. Apalagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Puasa itu adalah hari kalian semua berpuasa dan berbuka itu adalah hari kalian semua berbuka.”
Maka disandarkan kepada kebersamaan. Siapa yang punya pendapat di dalam sebuah kebersamaan, pendapat pribadinya, hendaknya dia tanggalkan, dia tinggal, dia simpan untuk dirinya kalau dia mau. Tapi kalau dia ingin lebih baik, walaupun itu pendapat pribadi, jangan diambil, dia ikuti pendapat kebanyakan orang. Dia ikuti siapa yang harusnya dijadikan patokan di dalam kemaslahatan umum. Sebagaimana ia dia dijaga di dalam agamanya. Maka ini dari salah satu contoh kebersamaan yang hendaknya diingat oleh kaum muslimin dan muslimat.
.....
Khutbah Kedua
Kaum muslimin jama’ah Jum’at rahimani wa rahimakumullah.
Menjaga prinsip kebersamaan di dalam segala hal, termasuk di dalam melihat hilal, menentukan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini adalah jalan di dalam agama kita. Di dalam mewujudkannya terdapat berbagai kemaslahatan dan kebaikan. Dari kemaslahatannya adalah menjaga kesatuan hati kaum muslimin dan saling bahu-membahu untuk mengikhlaskan agama kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari kemaslahatannya adalah menjaga kekuatan kaum muslimin, karena perselisihan itu adalah mengganggu dan melemahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Janganlah kalian berselisih sehingga kalian itu menjadi kalah dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang bersabar.”
Dan dari kemaslahatannya adalah menjaga persaudaraan antara sesama kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggambarkan seorang mukmin itu di dalam sabdanya,
“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya bagaikan satu bangunan. Sebagian dari bangunan itu menguatkan sebagian yang lainnya.”
(Al-Hadits)
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Perumpamaan kaum mukminin itu dalam hal saling cintai-mencintai, kasih-mengasihi, dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila sebagian dari anggota tubuh itu mengeluh, maka sebagian anggota tubuh yang lainnya merasakan keluhan tersebut dengan tidak bisa tidur atau rasa panas pada badan.”
(Al-Hadits)
Maka ini dari kebersamaan dan kebersatuan kaum muslimin. Kemudian dari menjaga kebersamaan ini adalah kemudahan di dalam agama. Seorang dimudahkan, lapang, menjadi gampang di dalam melaksanakan ibadahnya, menjalankan ketentuan-Nya. Karena itu, hendaknya setiap orang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberikan wewenang itu pada setiap perkara diberikan kepada pemiliknya masing-masing. Siapa yang berwenang, siapa yang ditugaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ditentukan di dalam syari’at untuk memegang wewenang tersebut sebagaimana penentuan masuk dan keluarnya Ramadhan itu hendaknya diserahkan kepada orang-orang yang berwenang dari pemerintah.
Kemudian, kita dalam waktu yang akan datang akan memasuki bulan Ramadhan. Dan seorang hamba hendaknya bergembira dengan keutamaan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hal tersebut, sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Katakanlah dengan keutamaan dari Allah dan dengan rahmat-Nya, dengan hal tersebutlah hendaknya mereka bergembira. Itu adalah lebih baik untuk mereka dari segala dunia yang mereka kumpulkan.”
Karena itu, bergembira dengan ibadah, bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, bergembira menyambut tamu yang penuh dengan kemuliaan dan kebaikan itu adalah suatu bagian dari keimanan, suatu bagian dari kesegeraan seorangg hamba di dalam meraih keutamaan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan kegembiraan di dalam menyambut bulan Ramadhan tersebut, bukan hanya kegembiraan di dalam hati atau kegembiraan pada badannya, tapi juga kegembiraan di dalam mempelajari makna dan kandungan bulan tersebut, mempelajari dari hikmah-hikmah dan rahasia-rahasianya, mempelajari dari hukum-hukum dan lahan-lahan ibadah yang terdapat di dalamnya. Sehingga dia betul-betul memanfaat bulan itu sebagaimana mestinya. Dan ini tugas kita dalam dua pekan yang akan datang, bagaimana seorang itu bergembira, bersiap menghadapi dan menyambut bulan Ramadhan sambil kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah memberikan umur yang panjang kita mencapai bulan yang mulia tersebut dalam keadaan sehat wal afiyat, dalam keadaan ridha dan diridhai, dan dalam keadaan menjadi seorang hamba yang diberi taufiq pada segala hal yang membawa kebaikannya di dunia dan di akhirat. Innahu waliyu dzalika wal qadiru ‘alaih.
Kemudian setelah dari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah kaum mukminin di dalam firman-Nya, Allah memulai dengan dirinya kemudian mengikutkan para malaikat-Nya di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan bersalamlah.”
Alloohumma shollii ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. Kamaa shollaita ‘alaa Ibroohim wa ‘alaa aali Ibroohim, innaka hamidum majid. Alloohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. Kamaa baarakta ‘alaa Ibroohim wa ‘alaa aali Ibroohim, innaka hamiidun majid.
(Doa penutup khutbah)
----------
Demikian penjelasan Al-Ustadz dalam khutbah beliau. Untuk melihat artikel sebelumnya bisa klik di sini.
Semoga bermanfaat untuk menambah khazanah keilmuan kita. Terlebih lagi seorang hamba harus memahami perkara yang terkait dengan agamanya. Dan kehadiran Ramadhan adalah sesuatu yang mestinya kita sambut dengan kegembiraan dengan mempelajari segala seluk beluk tentang Ramadhan, agar Ramadhan kita lebih berberkah, lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memanjangkan umur kita untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kesehatan, kekuatan, dan kelapangan kepada kita dalam beribadah di dalamnya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Aamiin ya Robbal 'aalamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan jujur dan santun.
Syukran.
Barakallahu fiikum